Kamis, 23 Februari 2012

Tari Gambyong Surakarta – Sejarah Seni Tari dari Surakarta Jawa Tengah

Tari Gambyong Surakarta foto gambar 
Tari Gambyong adalah Seni tari yang berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Asal mula tari Gambyong ini berdasarkan nama seorang penari jalanan (dalam bahasa jawanya penari jalanan disebut tledek, kadang terdengar kledek). Nama seorang penari ini adalah Gambyong. Ia hidup pada zaman Sinuhun Paku BUwono ke IV di Surakarta Sekitar tahun 1788 – 1820. Gambyong ini dikenal sebagai seorang penari yang cantik dan bisa menampilkan tarian yang cukup indah. Gambyong pun terkenal di seluruh wilayah Surakarta kemudian terciptalah Tari Gambyong. Jadi tari gambyong ini diambil dari Nama seorang Penari Wanita.

Tarian Gambyong ini merupakan salah satu jenis tari pergaulan di masyarakat. Seperti Tari Jaipong dari Jawa Barat yang juga merupakan tari pergaulan. Ciri khas dari pertunjukan tari gambyong ini adalah selalu dibuka atau di awali dengan gendhing pangkur sebelum tarian di mulai. Tari gambyong akan terlihat indah dan elok jika sang penari dapat menyelaraskan antara gerakan dan irama musik gendang. Karena, gendang sendiri umumnya disebut sebagai otot tarian dan pemandu gendhing.

Pada zaman dulu kala, yaitu pada zaman Surakarta. Instrumen pengiring tarian Jalanan (tledek) Gambyong ini dilengkapi dengan bonang dan gong. Galeman yang digunakan umumnya meliputi gong, kempul, kenong, kendang, gender, dan penerus gender. Semua instrumen tersebut selalu dibawa kemana-mana dengan cara dipikul.
Tari Gambyong Surakarta foto gambar jawa tengah

Perlu diketahui bahwa ada salah satu instrumen yang tampak sederhana namun untuk memainkan bukanlah sesuatu yang mudah. yaitu Gendhang. Untuk memainkan gendang yang baik, penabuh gendang atau pengendang harus mampu jumbuh dengan keluwesan tarian, selain itu juga harus mampu berpadu dengan irama gending. Wajar sekali jika sering terjadi dimana seorang penari gambyong tidak dapat dipisahkan dari pengendang. Begitu pun sebaliknya, penabuh gendang yang telah memahami gerak-gerik si penari gambyong pun juga akan mudah memainkan gendang yang sesuai dengan penari gambyong.

Itulah penjelasan mengenai tari gambyong – seni tari dari Surakarta jawa tengah. Semoga Informasi dapat menambah pengetahuan, dan tentunya bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Sumber : http://uxdyna9-wisatabudaya.blogspot.com/

Rabu, 22 Februari 2012

Berakhir Pekan di Anyer, Carita, dan Labuhan

Kadang penduduk Jakarta dan sekitarnya bingung mencari tempat untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Pusat perbelanjaan besar di Jakarta maupun factory outlet di Bandung dan Bogor sering menjadi sasaran. 

Namun, bila Anda mencari tempat berakhir pekan yang lebih dekat dengan alam, Anyer, Carita, dan Labuhan di Banten bisa jadi pilihan.

Tiga puluh tahun yang lalu daerah Anyer dan sekitarnya merupakan primadona wisata bagi kaum urban Jakarta dan sekitarnya. Tempat ini juga sering dijadikan latar syuting film kala itu. 



Sayangnya kemasyhuran kawasan ini seolah-olah tergerus oleh munculnya lokasi-lokasi wisata baru. Padahal, dari segi pemandangan, Anyer, Carita, dan Labuhan tidak terlalu berbeda dari beberapa dekade yang silam. 

Pada dasarnya, Anda tinggal menuju ke kawasan ini dan memilih tempat menginap. Anda hampir dipastikan mendapat pemandangan pantai berpasir yang indah. Bila Anda ingin berakhir pekan di hotel-hotel favorit, ada baiknya memesan lebih dahulu. 

Bila tempat menginap bukanlah masalah, ada banyak penginapan murah yang tidak perlu dipesan. Penginapan-penginapan murah ini berjajar dari selepas Kawasan Industri Krakatau, sepanjang Anyer, Carita, hingga ke Labuhan. 

Salah satu keunggulan kawasan Anyer adalah tekstur pantai berpasir lembut, sehingga cocok untuk tempat bermain anak-anak. Banyak hotel yang berada persis di tepi pantai sehingga pantai ini seolah-olah milik pribadi. Di Carita, Anda juga dapat melihat Gunung Krakatau sebagai latar belakang. 

Intinya, kawasan ini sangat cocok untuk didatangi bersama keluarga, maupun bagi Anda yang berpasangan. 

Anyer, Carita, Labuhan memang menjual pantai sebagai komoditas utama wisata mereka. Selain itu, ada beberapa ikon wisata secara khusus yang dapat Anda kunjungi di wilayah ini. 

Mercusuar Anyer


Mercusuar Anyer telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, dibangun sebagai penanda arah kapal-kapal VOC yang melintasi selat Sunda. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1806, namun sempat rusak terkena letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. 

Pada tahun 1885, pemerintah kolonial Belanda membangun kembali mercusuar ini di tepi pantai untuk menghindari abrasi. Pada fondasi mercusuar lama terdapat tulisan 0 KM Anyer-Panarukan 1806 yang menandai dibuatnya jalan Anyer-Panarukan yang hingga kini masih digunakan. Mercusuar Anyer terletak di Desa Cikoneng.

Karang Bolong


Sesuai dengan namanya, Karang Bolong adalah karang yang berlubang, terletak di Desa Cinangka. Bila Anda berkunjung ke Anyer, sempatkanlah untuk mampir ke Pantai Karang Bolong. Karang besar yang berlubang mendominasi pemandangan di pantai ini, membentuk semacam gerbang menuju laut. 



Di sini, wisatawan dapat menaiki tangga batu untuk menikmati pemandangan pantai dari atas. Di sekitar pantai ada sebuah sungai kecil yang mengalir, yang biasanya digunakan untuk membilas tubuh setelah bermain di laut. 

Kampung Wisata Alam Anyer


Setelah menikmati keindahan pantai, ada baiknya Anda juga menikmati keseniang dan budaya tradisional di Kampung Wisata Alam Anyer. Di sini seringkali diperagakan berbagai kesenian, salah satunya adalah debus Banten. Selain itu, Anda dapat menyaksikan permainan anak-anak, kesenian angklung, kerajinan gerabah, dan sebagainya. 

Di sini juga merupakan tempat yang tepat untuk mencoba makanan khas, seperti nasi bambu bakar dan minuman bandrek. Di kampung ini juga disediakan permainan modern seperti ATV dan flying fox. Kampung Wisata Alam berlokasi sekitar 50 meter sebelum Pondok Layung Resort di Jalan Raya Anyer Karang Bolong KM 133. 

Benteng Speelwijk


Untuk melengkapi wisata Anda ke Anyer, kunjungi juga Benteng Speelwijk di Desa Banten Lama. Lokasi objek wisata sejarah ini berada di utara Masjid Agung Banten. Di seberang benteng Anda akan menemukan Vihara Avalokitesvara. Benteng ini dulunya bekas Kesultanan Banten. Namun pada tahun 1785 Belanda berhasil mengambil alih dan menjadikannya benteng. Walaupun menjadi saksi sejarah, sayang wilayah benteng ini tidak terawat. 

Untuk menuju ke tempat-tempat di atas, dari Jakarta Anda tinggal mengikuti tol Jakarta-Merak. Rute yang biasa diambil adalah keluar dari gerbang tol Cilegon Timur di KM 87 dan mengikuti jalan menuju ke Anyer. 

Keluar dari tol, jalanan cukup buruk dan sering tergenang air setelah hujan turun. Inilah yang membuat banyak orang malas pergi ke Anyer dan Carita. Selain jalanan yang buruk, Anda juga harus bersaing dengan truk-truk bermuatan berat di jalanan sempit ini. 

Pilihan lain adalah mengikuti jalan tol Jakarta-Merak, dan keluar di gerbang tol Cilegon Barat di KM 95. Dari sini Anda akan menembus Kawasan Industri Krakatau untuk sampai ke Anyer. Rutenya sedikit lebih panjang tetapi kondisi jalan agak sedikit lebih baik dan lebar, serta tidak terlalu banyak truk. 

Nah, selamat menikmati pantai-pantai di Banten!

Selasa, 21 Februari 2012

Kuburan di Pulau Kelor

Sesuai dengan namanya, Pulau Kelor memang hanya selebar daun kelor. Luasnya tak lebih dari dua hektar. Daratan kecil tak berpenghuni ini hanya terdiri dari selarik pantai mini dan bangunan Benteng Martello.

Benteng Martello adalah benteng bulat dari bata yang dibuat dengan meniru benteng Mortella di Corsica (sebuah pulau di Laut Tengah). Dulu, Pulau Kelor adalah garda terdepan untuk mempertahankan Batavia dari serangan angkatan laut musuh yang menyerang dari samudera. Penjaga pulau akan memantau wilayah laut di depannya dan mengabarkan pada Batavia jika kapal musuh menampakkan diri di cakrawala.



Konstruksi Benteng Martello di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu. Foto: Famega Syavira

Masyarakat sekitar juga menyebut pulau ini sebagai Pulau Kuburan. Konon beberapa pemberontak memang dimakamkan di sekitar benteng. Salah satunya adalah pemberontak yang melawan Belanda dari atas kapal Zeven Provincien pada Februari 1933. Sayang, kini setengah bagian luar benteng tertutup semak-semak sehingga tak mudah dijelajahi.

Bangunan benteng yang asli sebenarnya jauh lebih luas daripada yang bisa disaksikan sekarang. Benteng yang tersisa hanya bagian dalamnya. Sebagian besar benteng runtuh dan terendam air karena abrasi yang mengikis pulau.

Ketiga pulau ini dapat dicapai dari Pelabuhan Kamal Muara, Muara Angke dan Marina, Ancol. Dua pelabuhan yang saya sebut pertama adalah pelabuhan rakyat yang becek dan kotor.

Lautnya? Jangan tanya lagi. Untuk menuju pulau-pulau itu, kapal harus melewati laut berbau busuk, berwarna hitam kental akibat polusi. Beberapa kali kapal harus berhenti di tengah laut karena sampah tersangkut ke baling-balingnya. Ketika saya ke sana, baling-baling terlilit semacam senar panjang yang sulit dilepaskan.

Setelah setengah jam perjalanan, warna hitam berangsur-angsur menghilang meski air tetap tak biru. Di Pulau Kelor yang berjarak 15 menit dari pesisir Jakarta, air laut masih tampak kotor sehingga tak disarankan untuk mandi-mandi di sini.

Laut biru di Teluk Jakarta setidaknya baru akan muncul di sekitar pulau Pramuka. Meski demikian, Kepulauan Seribu bisa menjadi pilihan alternatif perjalanan yang singkat dan menyenangkan bagi warga Jakarta.


Sumber

Keragaman Rumah Adat di Indonesia

Kebudayaan daerah di Indonesia tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. salah satunya adalah rumah adat. Berikut ini adalah bentuk dan nama - nama rumah adat di Indonesia. Selamat menikmati.

1. Provinsi Nanggro Aceh Darussalam
Rumah Adat Tradisional : Krong Bade


Kumpulan ,Rumah, Adat, Indonesia


2. Provinsi Sumatera Utara
Rumah Adat Tradisional : Rumah Bolon
 

 


3. Provinsi Sumatera Barat
Rumah Adat Tradisional : Rumah Gadang
 

 


4. Provinsi Riau
Rumah Adat Tradisional : Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar (Rumah Lancang)

 

   
5. Provinsi Riau Kepulauan
Rumah Adat Tradisional :
  Rumah Selaso Jatuh Kembar (Rumah Belah Bubung)




6. Provinsi Jambi
Rumah Adat Tradisional : Rumah Panjang


 
 


7. Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Tradisional : Rumah Limas
 

 


8. Provinsi Lampung
Rumah Adat Tradisional : Nuwo sesat


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu4HUG5EXCdxYbJjrCmAUXtwie71jt4J7urEGjTUgjBSZhKhkoOIHPx9Xbh-Nuk_1qRf_RldCka8feCe_21TcLIbuHXSH_uy1zv9J_9yEc6mR0im8QsolIB_Mr7bxlKND7N3YSQj8eipEt/s1600/rumah-adat-lampung.jpg


9. Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Tradisional : Rumah Bubungan Lima (Rumah Rakyat)
 

 


10. Provinsi Bangka Belitung
Rumah Adat Tradisional :  Rumah Rakit


 http://chipmunkjumpink.files.wordpress.com/2009/05/rumah-limas-bangka-belitung.jpg


11. Provinsi DKI Jakarta
Rumah Adat Tradisional : Rumah Kebaya




















12. Provinsi Jawa Barat
Rumah Adat Tradisional : Kesepuhan 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZYArwDFEP0_M5dgXCtIo4YXo2FSDAKMD3f7bu-9bssgg_pLCQXVog2M-y1WojY6Jeqj2XZ7d0HrC7z5YLrxw20zyWzVTEvyZmmEHD-jZgcj14ihNkxBKJCnA3_fdz1bbWk4l1KlBRoqHU/s1600/rumah-adat-jawa-barat.jpg


13. Provinsi Banten
Rumah Adat Tradisional: Kasepuhan
 http://genasik.telkomsel.com/genasik/web/uploads/WL_var%20254.JPG


14. Provinsi Jawa Tengah 
Rumah Adat Tradisional : Rumah Joglo

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieJVUCXxpiQBaAux-gLuri2pDjM8du74xjqtZgrZdlt_otmkir8qWfMEWf4FilQmeJG5lMj951GIUxTbOTflZaMs-d8A6cWfdO3hsc9hiZY6MEI8xFia3tAsOKq5bwytFYYSgsBA83bnIZ/s1600/rumah-jawa.jpg
 


15. Provinsi DI Jogjakarta
Rumah Adat Tradisional : Rumah Bangsal Kencono
http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2009/09/rumah-joglo.jpg


16. Provinsi Jawa Timur
Rumah Adat Tradisional : Rumah Joglo
http://www.liyono19.comli.com/image/jawa-timur.jpg














17. Provinsi Bali
Rumah Adat Tradisional : Gapura Candi Bentar

 

 


18. Provinsi Nusa Tenggara Barat 
Rumah Adat Tradisional : Dalam Loka Samawa

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKkyz4oSySXQExFLk7pOJma4uWKXTwkcJQhuoKqbnitLtzmL95wPa9xbcxI-i5RniCQkjDRK9kiv_HSp-nWe3NGyjube5CXNJe2NlwNcw7RXYSAgg9hC58IqPcupahwPr_M5rehH-V_eYM/s1600/rumah-adat-NTB.jpg
 


19. Provinsi Nusa Tenggara Timur 
Rumah Adat Tradisional : Sao Ata Mosa Lakitana (Musalaki)

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMAOa1tE4K_JFesfr7fNXmpPRflzeLZGAfaseRwJDrxY0oAGSW8aoo0hmCmlUFMWdjMJA4ERJRehZwS7H_UgBs2sTK-6pUbIlGE207kFjncbFpBLO-3EEMNei5QCtkGifOHJ1dOQYDy7or/s1600/rumah-adat-NTT.jpg
 


20. Provinsi Kalimantan Barat
Rumah Adat Tradisional : Rumah Panjang
 

 



21. Provinsi Kalimantan Tengah 
Rumah Adat Tradisional : Rumah Bentang
 

 


22. Provinsi Kalimantan Selatan
Rumah Adat Tradisional : Rumah Banjar Bubungan Tinggi
 

23. Provinsi Kalimantan Timur

Rumah Adat Tradisional : Rumah Lamin
 

 


24. Provinsi Sulawesi Utara 
Rumah Adat Tradisional : Rumah Pewaris

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja4tdn1S340JhCAx6Fn5MVaX9-zY2CqoTz0S7QAaY708OcVNKDS_k2OHeEDc_cvP2p0Kn96gprpA8O4Re5rKUSNG-IBZu2WFSsXwCgTmbLBjkOzh4aJgmBjJ0j2uIsGDZ6TgE1ml9ja1Za/s1600/rumah-adat-sulawesi-utara.jpg
 



25. Provinsi Gorontalo
Rumah Adat Tradisional : Rumah Dolohupa[Rumah+Adat+Gorontalo+(doloupa+).jpg]


26. Provinsi Sulawesi Tengah
Rumah Adat Tradisional : Souraja / Rumah Besar

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8d-IW___PTtLR-EUZDJlAACLMaSopwPczIu93X6Wy9-k_Sw3QYpFKgaXFgySD2pjyFthPHoUvtuuQxtkFb-LilOkpYOTV1a4y05RrtvsqyQXC2Iq3G66nMSjijoYwxNauehEjqBsVIzt9/s1600/rumah-adat-sulawesi-tengah.jpg
 


27. Provinsi Sulawesi Tenggara
Rumah Adat Tradisional : Laikas

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh34MUY7QbYlnAKSMPBqLDatslsiOaaJ2LpmsfHMg_Vkqx2zLBeUfswWrnbVvB9RBfjSuHx-smNB14GJ0OOXvh3ar5xZPeqv2_EFbm924gXdtp-SD2lTlVWrkGyhJUWL09h0P0kyhyphenhyphenAmXzx/s1600/rumah-adat-sulawesi-tengara.jpg
 


28. Provinsi Sulawesi Selatan
Rumah Adat Tradisional : Tongkonan




29. Provinsi Maluku
Rumah Adat Tradisional : Baileo


 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLzF8AlYlLXxRvn_XNAmPYu2PVyCOO2mtdN_Q3tSC2tvN1rPcqaNa20mUlwyAlmmXxMHQnRAzvFd14FlJhGyRTG0htXaWP9ENza5CRZ16hsHMXBgSvh7iKucJpw5pvJC-L9GHG-i38NClN/s1600/rumah-adat-maluku-e1265745689456.jpg
 


30. Provinsi Maluku Utara
Rumah Adat Tradisional : Sasadu

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTt73JJ2JAsVpU0FMjFtDr61rfSeC3VzoveXY1LGnq7jMFKDkntWFGauSv3v86aNxjeaVYROsX-gBdwY_qn6cFzQpTaUN1wTeaM8BNttT6a0dk_E45xoH8XblqalntSZh_755lr_NvCMM/s320/IMG_0249.JPG


31. Provinsi Papua
Rumah Adat Tradisional : Rumah Honai






32. Provinsi Papua Barat
Rumah Adat Tradisional : Rumah Honai



honaikorupun.jpg image by papatonk
Lihat inilah kekayaan budaya negara kita. Ini masih rumah adatnya, belum tari - tarian, pakaian adat dan makanan adatnya. Waah, Indonesia kita kaya ya. oleh karena itu kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia.
Sumber

Situ Patengan, Danau di Tengah Kebun Teh

Siapa bilang berlibur harus pergi jauh dan mengeluarkan uang banyak? Saya sangat yakin bahwa esensi berlibur adalah keluar dari rutinitas sehari-hari yang menjemukan dan melakukan sesuatu yang lain. Jadi Anda bisa berlibur di mana saja: berkeliling dunia atau suatu tempat yang tak terlalu jauh dari rumah.

Situ Patengan (atau Patenggang) di Ciwidey, Bandung Selatan, dapat dijadikan salah satu pilihan destinasi akhir pekan bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Jaraknya, 185 km dari Jakarta melalui tol Cipularang.


Suasana di Situ Patengan. Foto: Olenka Priyadarsani

Terletak di ketinggian sekitar 1600 m di atas permukaan laut, danau ini dikelilingi kebun teh Rancabali. Anda tidak hanya dapat menyaksikan danau yang tenang, tapi juga menikmati hijaunya kebun teh dengan topografi memesona.

Nama danau ini berasal dari kata pateang-teangan yang berarti saling mencari. Alkisah, dahulu kala dua insan manusia bernama Ki Santang jatuh cinta kepada Dewi Rengganis yang sangat cantik. Setelah berpisah sekian lama, mereka bertemu kembali di daerah yang kini disebut Batu Cinta.

Ketika berkunjung ke sana baru-baru ini, saya benar-benar takjub dengan pemandangan di sana. Saya tak menyangka Situ Patengan ternyata seindah itu — sebab tempat ini tidaklah seterkenal objek wisata lain di sekitar Bandung.

Untuk memasuki lokasi danau, Anda harus membayar tiket masuk Rp 6 ribu per orang dan Rp 11.500 per mobil. Tidak terlalu mahal bukan?

Dari gerbang tiket menuju lokasi danau, Anda akan melalui jalan yang membelah kebun teh. Pemandangannya sungguh luar biasa. Sebuah danau membentang di tengah hamparan kebun teh dan di tengah-tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil.

Jika ingin mengunjungi Batu Cinta (tempat Ki Santang bertemu Dewi Rengganis), Anda dan rombongan bisa menggunakan perahu dayung dengan ongkos Rp 130 ribu pp — yang bisa ditawar hingga setengah harga.

Perjalanan ke lokasi Batu Cinta membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Di lokasi ini, Anda dapat mendaki bukit di belakangnya, memasuki kebun teh dan mengambil gambar di situ. Ada pula sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekelilingnya, sehingga Anda bisa leluasa mengambil gambar sekeliling danau. 

Waktu terbaik untuk datang ke Situ Patengan adalah pagi hari, saat langit masih berwarna biru bersih. Perpaduan biru langit dan hijau kebun teh menghasilkan pemandangan yang tak terlupakan.

Jadi, berlibur tidak mesti pergi jauh dan mahal, bukan?Sumber